Artikel "Elegi Seorang Guru Menggapai Kesempatan" tulisan dari Dr Marsigit, MA pada link berikut http://powermathematics.blogspot.com/2009/01/elegi-seorang-guru-menggapai-kesempatan.html adalah sebuah artikel yang luarbiasa yang mampu mengingatkanku pada dosen-dosen di tempatku kuliah. Tapi sayang, aku jarang mengambil kesempatan atau aku yang salah menilai diriku?? Kontrakdiksi kah ini namanya?? Seingatku, aku di maki-maki di depan sekian orang... untung aku bukan Tuhan. Ketika kubaca artikel "guru menggapai kesempatan", tampak bahwa guru yang cuma ngoceh aja sementara siswa duduk diam, kemudian mendengarkan bahkan berusaha memahami kuliah aja, dikatakan guru ini menutupi sifat muridnya. Pertanyaannya, bagaimana dengan seorang guru yang malah sampai memaki-maki muridnya yang sudah rela berkorban ditutupi sifatnya ini? KOntradiksikah ini?? Aku juga teringat seorang dosen yang berkata,"kenapa kamu jarang protes tapi kamu seolah membrontak??" sekarang mungkin aku bisa jawab, karena ada kontradiksi di dalam diriku. Luar biasa artikel ini. Aku berusaha yakin, diam juga merupakan kesempatan yang berarti hidup atau bisa dibilang sedang bertahan hidup sehingga itu menjawab bahwa ketika siswa itu diam, ia sedang memahami dan mengambil kesempatan pada kejadian supaya dapat dipahami. Sedikit mengingatkan, bahwa hilangnya seseorang, itu akan berpengaruh dalam kesempatan yang tersedia. Apakah makian pun akan menjadi perubahan sifat atas kesempatan? Dan hidup adalah kesempatan. Lebih baik aku minta maaff, "maaf kan aku dosen-dosenku.. semoga aku bisa jadi guru yang hidup dan menghidup-hidupkan anak didikku."
669 code's check it to footer
Tidak ada komentar:
Posting Komentar