Custom Search

Sabtu, 02 Februari 2013

Move-on for My Future


Impianku ketika ada di sekolah menengah jurusan kimia adalah bekerja di perusahaan dengan harapan memperoleh pendapatan  yang cukup untuk membuat rumah sendiri. Rumah itu didesain, ada taman di halaman depan dan belakang. Taman juga kudesain ada di ruang santai atau ruang keluarga. Kolam renang dengan ukuran cukup. Kemudian di tiap ruangan ada tanaman dalam pot dengan media bukan tanah.

Begitu masuk ruang tamu yang dilengkapi perabot dari rotan, kita dapat menikmati ikan dalam aquarium yang nempel di dinding tembok layaknya lukisan hidup. Beberapa lukisan tentang semangat hidup. Bersih dan wangi. Dilengkapi bacaan ringan dan sound system minimalis pengiring obrolan. 

Ruang tengah didekor sedemikian rupa untuk kehangatan keluarga. Dengan multimedia yang cukup memuaskan dan beberapa media refreshing keluarga. Kemudian ruangan lain-lain, ruang makan, dapur, kamar dan ruang kebutuhan yang diperlukan. Ada studio music di bawah tanah. Rumah yang manis dengan seluruh perlengkapan yang wajar untuk berjalannya aktifitas di dalam rumah. 

Ruang kerja, ada perpustakaan pribadi, dan aku ingin punya laboratorium pribadi di bawah tanah. Pekerjaanku adalah peduli terhadap masa depan bumi. Laboratorium dengan lemari asam, cerobong, kamar alat dan bahan, dan didesain sesuai standard yang pernah kupelajari. Namun semua yang berkaitan dengan obsesi dan pekerjaan kulokasikan di tempat sekitar satu mil dari rumah pribadi. 

Aku ingin menggabungkan obsesi sebagai seorang sains dengan obsesi seorang yang mampu di bidang teknologi computer dan jaringan. Hal ini karena factor pemikiran yang sesuai alur dalam industry, ada bahan, proses dan produk yang didukung oleh komputerisasi tingkat tinggi sebagai fasilitas efesiensi kinerja maupun pengontrol. Jaringan informasi adalah manager dari keluar masuknya informasi di pekerjaan ini. Sistem keamanan didesain dengan teknologi safety automatic. 

Produk yang dikeluarkan adalah software dan literature ilmiah tentang solusi pelestarian bumi. Langkah konkrit dibantu oleh masyarakat adalah pembudidayaan pengetahuan dan teknis untuk mengamankan bumi dari kerusakan. Jaringan informasi sebagai penyebar virus kepedulian terhadap bumi. Semua ini menurutku adalah masa depanku dan kemudian akan menjadi masa depan umat selanjutnya.   

Jumat, 01 Februari 2013

Masa Depanmu bukan Ijazah dan Pekerjaan


Awalnya aku berpikir masa depanku ditentukan oleh ijazah. Dengan ijazah kita dapat memperoleh pekerjaan. Uanglah yang aku cari untuk membeli kebahagiaan yang kusebut dengan masa depan. Dan itu yang ditanamkan  oleh orang tua di pikiran kita, kurasa.

Satu saat saya mendapatkan pesan dari file yang tidak sengaja saya temukan, bahkan saya lupa dapat file itu dari mana. Pesan itu menjabarkan kemungkinan musnahnya manusia atau perubahan peradaban yang buruk dan akan terjadi. Bukan file penelitian, namun gambaran ketakutan si pembuat file yang dilegalkan dengan fakta ilmiah yang ia susun. Kini file itu entah kemana namun sangat membekas dalam logikaku.

Ketika tiap detik telah kita lalui bersama, kemungkinan adanya mesin waktu yang dapat membawa kita ke masa lampau, faktanya masih menjadi mimpi, tapi tentah bagi para filsuf dan sains. File itu menggambarkan padaku akan langkanya air di muka bumi ini, yang dimaksud adalah air bersih yang layak buat dikonsumsi. Namun dalam tahun-tahun berikutnya dimungkinkan air benar-benar akan mengering, yang artinya memang langka air.

Aku mulai berpikir, apa itu masa depan? Bahagiakah anak cucuku di masa depan? Apakah mereka dapat bermimpi seperti sekarang yang kulakukan, mengejar ijazah supaya kaya dan bisa gunakan fasilitas dunia (termasuk air) dengan sangat puas dan murah. Udara juga masih gratis untukku. Dalam file itu juga menggambarkan tentang pencemaran udara dimana kepekatan asam melebihi normal dan mereduksi oksigen murni. Hujan asam sering terjadi sehingga kualitas air pun memburuk. 

Pelestarian pepohonan, makhluk hidup yang dipercaya mampu menghasilkan oksigen sekian gram ekivalen per detiknya adalah obyek pertama yang terlintas dibenakku. Kemudian pembatasan minimum terhadap industrialisasi penghasil asam maupun basa berlebih dan industrialisasi lain dimana sampah anorganiknya dapat merusak bumi. Terlintas pula tentang nuklir yang didambakan segera bermunculan sebagai pengganti sumber energy maupun sebagai senjata pelindung pertahanan.

Saya ingin minta tolong ke siapa pun yang berkenan membantu saya. Tolong kirimkan link ke blog ini tentang ancaman kerusakan bumi dan gambaran solusi yang pernah ada atau solusi yang mungkin sudah mulai dilakukan. 

Pria dan wanita jaman sekarang mungkin masih dapat jual mahal, menyombongkan penampilan, ketampanan maupun kecantikan, namun apa yang akan terjadi sekian puluh tahun lagi? Air dan oksigen adalah penentu kehidupan di bumi. Selain kegagalan dalam cinta, gagal mencintai bumi adalah kekhawatiran yang kuyakin ada di benak kita.

Entri Populer