Beberapa argument yang ditampilkan dalam tulisan “Inagurasimu tak Berkarakter” sebenarnya merupakan pengingat, bahwa perbedaan pemikiran itu ada. Dan ekspresi atas hal tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Terkadang sebuah pemikiran butuh untuk dikaji jika memang diperlukan. Alangkah indahnya jika suatu perbedaan ini mampu mengasah pemikiran kaum muda bangsa ini untuk lebih cerdas mengolah potensi yang ada dalam pribadi masing-masing.
“Kehidupan bagi saya bukanlah sebuah lilin kecil. Kehidupan merupakan sebuah obor besar yang dapat saya genggam sesaat, dan saya ingin membuatnya menyala seterang-terangnya sebelum menyerahkannya kepada generasi yang akan datang”. (George Bernard Shaw)
Dari kutipan tersebut, ada pelajaran berharga tentang kesungguhan dan semangat untuk menciptakan karya-karya dahsyat yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Begitu pula dengan pemikiran-pemikiran kita. Belum tentu sebuah pemikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan itu tidak berguna atau sekedar coretan-coretan pemancing emosional belaka. Justru dengan bangkitnya keberanian kita untuk menciptakan sebuah pemikiran, kemudian mengabadikannya dalam bentuk tulisan dapat menjadi wahana edukasi yang luar biasa sebagai modal kaum muda menunjukkan antusiasme dalam usaha meraih kecerdasan personal mereka.
Sungguh ironis jika pemikiran-pemikiran yang lahir itu langsung dibungkam, karena sama saja kita mematikan kecerdasan yang baru saja akan diasah. Inilah yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Jadi jangan heran jika mental-mental “penghambaan” kita semakin kental. Menurut Prof. Dr. Edi Suwasono, dalam acara ranah public TVRI, 10 Agustus 2012 lalu, bahwa kemerosotan bangsa ini terjadi, disebabkan oleh lemahnya pemikir-pemikir muda sehingga mental-mental penghambaan semakin terbentuk, yang kemudian dalam hal ini dimanfaatkan oleh pihak asing.
Ada sebuah kutipan dari Guru Ching Hai yang mengatakan, “Demi konsep, pikiran kita lahir; demi konsep, pikiran kita mati; dan demi konsep, pikiran kita juga terbebas dari roda kelahiran dan kematian-maka konsep pikiran harus tepat, agar kita tidak salah membimbing orang lain”.
Konsep pikiran yang tepat inilah yang seharusnya menjadi focus para pemimpin kita. Mengapa kita terlalu berpikiran negative tentang sebuah argument? Kenapa kita tidak menjadikannya sebagai instrument evaluasi tentang konsep yang telah kita buat? Jadi, marilah kita membuka diri kita untuk menerima pemikiran apa pun yang ditujukan pada kita dan memfokuskan pikiran kita pada apa yang sedang kita ciptakan.
“Bukannya kawan atau musuh yang menjerumuskan ke dalam kejahatan, melainkan pikiran sendiri itulah yang membawa seseorang ke jalan kejahatan”. (Budha Gautama)
Jika dicermati ulang, “Inagurasi tak Berkarakter”, mengilustrasikan pemikiran-pemikiran yang bukan dimaksudkan untuk kejahatan, melainkan jalan lain yang mungkin akan ditempuh jika suatu bentuk karya tersebut mengalami kekeliruan pemahaman di pihak lain atau aplikasi konsep yang diskenario untuk menuju tema yang dimaksud, mengalami kegagalan. Di sisi lain, adanya reaksi spontan para pembaca menjadi indikasi meningkatnya kualitas pemikiran mereka itu sendiri dan merupakan moment yang tepat untuk menyikapinya dalam bentuk motivasi-motivasi pembangkit nuansa intelektualitas.
“Dunia hanya bisa digenggam dengan tindakan, bukan dengan pikiran. Tangan adalah perpanjangan pikiran.” (Jacub Bronowski)
Kutipan terakhir ini mengingatkan kita tentang kelanjutan langkah kita setelah berpikir. Jika memang sebuah konsep itu lahir dari pemikiran yang dilakukan bahkan oleh lebih dari satu orang, maka mari kita tunjukkan bahwa apa yang telah dirancang itu mampu untuk dapat dikerjakan. Jika memang “Inagurasi tak Berkarakter” itu lahir dari pemikiran-pemikiran pihak lain, setidaknya mereka telah melakukan tindakan atas pikiran tentang pentingnya mengutamakan kebaikan dan langkah bijak dalam beraspirasi, dibandingkan dengan arogansi fisik yang jelas bukan cermin seorang yang mengenyam pendidikan.