Custom Search

Sabtu, 11 Agustus 2012

BANGKITLAH PEMIKIR MUDA !!

Beberapa argument yang ditampilkan dalam tulisan “Inagurasimu tak Berkarakter” sebenarnya merupakan pengingat, bahwa perbedaan pemikiran itu ada. Dan ekspresi atas hal tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Terkadang sebuah pemikiran butuh untuk dikaji jika memang diperlukan. Alangkah indahnya jika suatu perbedaan ini mampu mengasah pemikiran kaum muda bangsa ini untuk lebih cerdas mengolah potensi yang ada dalam pribadi masing-masing.

“Kehidupan bagi saya bukanlah sebuah lilin kecil. Kehidupan merupakan sebuah obor besar yang dapat saya genggam sesaat, dan saya ingin membuatnya menyala seterang-terangnya sebelum menyerahkannya kepada generasi yang akan datang”. (George Bernard Shaw)
Dari kutipan tersebut, ada pelajaran berharga tentang kesungguhan dan semangat untuk menciptakan  karya-karya dahsyat yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Begitu pula dengan pemikiran-pemikiran kita. Belum tentu sebuah pemikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan itu tidak berguna atau sekedar coretan-coretan pemancing emosional belaka. Justru dengan bangkitnya keberanian kita untuk menciptakan sebuah pemikiran, kemudian mengabadikannya dalam bentuk tulisan dapat menjadi wahana edukasi yang luar biasa sebagai modal kaum muda menunjukkan antusiasme dalam usaha meraih kecerdasan personal mereka.
Sungguh ironis jika pemikiran-pemikiran yang lahir itu langsung dibungkam, karena sama saja kita mematikan kecerdasan yang baru saja akan diasah. Inilah yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Jadi jangan heran jika mental-mental “penghambaan” kita semakin kental. Menurut Prof. Dr. Edi Suwasono, dalam acara ranah public TVRI, 10 Agustus 2012 lalu, bahwa kemerosotan bangsa ini terjadi, disebabkan oleh lemahnya pemikir-pemikir muda sehingga mental-mental penghambaan semakin terbentuk, yang kemudian dalam hal ini dimanfaatkan oleh pihak asing.

Ada sebuah kutipan dari Guru Ching Hai yang mengatakan, “Demi konsep, pikiran kita lahir; demi konsep, pikiran kita mati; dan demi konsep, pikiran kita juga terbebas dari roda kelahiran dan kematian-maka konsep pikiran harus tepat, agar kita tidak salah membimbing orang lain”.
Konsep pikiran yang tepat inilah yang seharusnya menjadi focus para pemimpin kita. Mengapa kita terlalu berpikiran negative tentang sebuah argument? Kenapa kita tidak menjadikannya sebagai instrument evaluasi tentang konsep yang telah kita buat? Jadi, marilah kita membuka diri kita untuk menerima pemikiran apa pun yang ditujukan pada kita dan memfokuskan pikiran kita pada apa yang sedang kita ciptakan.

“Bukannya kawan atau musuh yang menjerumuskan ke dalam kejahatan, melainkan pikiran sendiri itulah yang membawa seseorang ke jalan kejahatan”. (Budha Gautama)
Jika dicermati ulang, “Inagurasi tak Berkarakter”, mengilustrasikan pemikiran-pemikiran yang bukan dimaksudkan untuk kejahatan, melainkan jalan lain yang mungkin akan ditempuh jika suatu bentuk karya tersebut mengalami kekeliruan pemahaman di pihak lain atau aplikasi konsep yang diskenario untuk menuju tema yang dimaksud, mengalami kegagalan. Di sisi lain, adanya reaksi spontan para pembaca menjadi indikasi meningkatnya kualitas pemikiran mereka itu sendiri dan merupakan moment yang tepat untuk menyikapinya dalam bentuk motivasi-motivasi pembangkit nuansa intelektualitas.

“Dunia hanya bisa digenggam dengan tindakan, bukan dengan pikiran. Tangan adalah perpanjangan pikiran.” (Jacub Bronowski)
Kutipan terakhir ini mengingatkan kita tentang kelanjutan langkah kita setelah berpikir. Jika memang sebuah konsep itu lahir dari pemikiran yang dilakukan bahkan oleh lebih dari satu orang, maka mari kita tunjukkan bahwa apa yang telah dirancang itu mampu untuk dapat dikerjakan. Jika memang “Inagurasi tak Berkarakter” itu lahir dari pemikiran-pemikiran pihak lain, setidaknya mereka telah melakukan tindakan atas pikiran tentang pentingnya mengutamakan kebaikan dan langkah bijak dalam beraspirasi, dibandingkan dengan arogansi fisik yang jelas bukan cermin seorang yang mengenyam pendidikan.

Kamis, 09 Agustus 2012

INAGURASIMU TAK BERKARAKTER



Universitas PGRI Yogyakarta tahun ini akan mengadakan orientasi dan pengenalan kampus (OSPEK) untuk mahasiswa baru. “OSPEK 2012 sebagai wahana edukasi organisasi yang berbudaya, demi terwujudnya mahasiswa berkarakter dan peduli lingkungan”, tema yang akan diusung oleh acara tersebut. Apakah acara ini akan sesuai dengan tema ataukah hanya sebatas formalitas tahunan semata?

Inagurasiku

Inagurasi diadakan sebagai agenda tambahan dalam acara OSPEK di setiap tahunnya. Beberapa mahasiswa serasa terhipnotis ketika membicarakan hal ini, sehingga banyaknya argumentasi yang muncul seolah menyamarkan tema OSPEK pada umumnya.

Pembicaraan tentang panggung inagurasi ini diwarnai perdebatan, perlu/tidak-nya bintang tamu alias band pendatang yang akan memeriahkan pentas panggungnya. Usulan untuk mendatangkan grup band nasional merupakan obrolan terpanas di forum rapat panitia. Akhirnya, apakah grup itu mampu menjamin kemeriahan penampilan pentas inagurasi?

Band tenar di tingkat nasional mungkin dikatakan sebagai focus kemeriahan acara, namun dimanakah penterjemahan tema OSPEK 2012 ini diletakkan? Mana yang lebih diutamakan, penterjemahan atas tema ataukah terfokus pada kemeriahan yang terkadang tidak jelas mengartikan, tentang arti sebuah kemeriahan?

Terlepas dari perdebatan tentang arti sebuah kemeriahan, budjet yang dipersiapkan untuk artis nasional ini tidak sedikit dan sangat menyita banyak anggaran dana OSPEK yang notabene diketahui oleh berbagai pihak bahwa dana yang ada harus didukung oleh penarikan dana tambahan dari mahasiswa baru, artinya tanpa dana tambahan tersebut maka bisa dikatakan sebenarnya dana yang ada, minimum. Bisa dikatakan pula bahwa inagurasi ini terlalu dipaksakan untuk diadakan sedangkan soul atas tema OSPEK belum tentu tercermin.

Inagurasi kembali kepada tema OSPEK 2012

Tema OSPEK dapat diterjemahkan dalam sajian materi ruang OSPEK. Namun materi ruang adalah teori atas apa yang diharapkan oleh tema itu. Kemudian dilanjutkan acara kreatifitas oleh mahasiswa baru. Dan puncak penterjemahan tema setidaknya dapat tercermin dalam panggung inagurasi.

Jika mengambil kata “ mahasiswa berkarakter “ untuk diterapkan pada inagurasi, dapat diwujudkan dengan memberikan kesempatan mahasiswa baru menunjukkan karakter personal masing-masing dalam penampilan panggung pentas seni, sedangkan untuk mahasiswa umum semestinya mampu menampilkan karakter dari Universitas tempat kuliah mereka.

Bagi mahasiswa baru, mungkin dapat menampilkan pentas seni berwawasan budaya atau nasionalisme sebagai cermin personal seperti layaknya manusia berbudaya dan berkarakter. Kemudian suguhan atas cermin mahasiswa berkarakter di kampus ini, dapat diwujudkan dengan penampilan beberapa unit kegiatan mahasiswa yang membidangi seni ataupun sumbangan spontan dari mahasiswa secara umum yang seluruhnya ini jika diramu dapat menggambarkan karakter mahasiswa kampus ini.

“Peduli lingkungan”, beberapa kata dalam tema tersebut setidaknya juga menjadi bahan seni untuk memotivasi mahasiswa lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Suguhan seni seperti lagu-lagu band yang diperdengarkan ataupun pentas drama, misalnya, dapat mengangkat tema ini.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menterjemahkan tema OSPEK tahun ini terlepas dari bahasan perlu/tidaknya pemakaian bintang tamu. Sekiranya bintang tamu ini memang dibutuhkan, apakah sesuai dengan tema jika penarikan dana dari mahasiswa baru itu dipaksakan untuk mendatangkan artis nasional yang direncanakan.

Inagurasi bernilai jual untuk kampus

Sempat terdengar bahasan tentang meningkatnya nilai jual kampus ketika mendatangkan artis nasional, yang diartikan sebagai daya tarik satu malam oleh sebagian mahasiswa yang kontra terhadap argument tersebut. Di luar forum rapat panitia kemudian muncul argument untuk mengusulkan adanya audisi band bagi teman-teman setingkat SMA/SMK, yang diasumsikan mampu mengakomodasi strategi penjaringan mahasiswa baru di tahun berikutnya. Artinya  langkah strategis pengenalan dan promosi kampus, jelas sedikit banyak ber-efek.

Bahasan untuk kembali mengkonsep acara sesuai tema adalah bahasan yang sangat perlu untuk diulas. Hal ini masuk akal ketika tema yang dicetuskan sebenarnya layak untuk meningkatkan nilai jual kampus Universitas PGRI Yogyakarta. Adakah pikiran bahwa tema OSPEK tahun ini tidak bernilai jual atau kurang berkesan? Jika ya, berarti eksistensi panitia dan tingkat pemikiran mahasiswa perlu dipertanyakan kualitasnya. Jika tidak, berarti tema yang merupakan sumber ide dari keseluruhan konsep acara patut untuk diperjuangkan.

Semua ini akan jadi bahasan saja ketika tingkat agresifitas para aktifisis akademisi ini hanya isapan jempol. Pertanyaan terakhir, dimana kita dapat mensuarakan “Dari UPY untuk Indonesia”, jika panitia terkesan kurang menghargai dana yang terkumpul dari mahasiswa baru yang notabene baru akan menjadi warga kampus atau sivitas muda di Universitas ini, seolah belum sempat membahas suguhan untuk Indonesia.

Hidup mahasiswa ..... !!!

Entri Populer