Menulis berita tidak sama dengan menulis tulisan biasa. Ada kriteria tertentu yang penting untuk diperhatikan ketika seseorang menulis berita jurnalistik. Kriteria itu bisa menyangkut ragam berita, cara menulis pembukaan berita, struktur berita, dan sebagainya.
Seorang jurnalis juga harus mengetahui berita yang bagaimana yang disebut factual, actual, yang mengandung unsur konflik, atau yang mengandung kontroversi. Juga perlu memahami perbedaan antara follow up news, in dept reporting, investigative reporting, dll.
1. Enam pertanyaan pokok
Setiap berita berisikan fakta-fakta yang menyangkut manusia ataupun benda-benda dan hewan yang ada dalam masyarakat. Baik orang, benda, dan hewan yang diberitakan dapat diungkap melalui enam pertanyaan pokok: yaitu: apa, siapa, mengapa, dimana, bilamana, dan bagaimana.
a. Apa yang terjadi?
b. Siapa yang terlibat dalam kejadian?
c. Mengapa (apa yang menyebabkan) kejadian timbul?
d. Di mana kejadian itu ?
e. Bilamana kejadian itu?
f. Bagaimana kejadiannya (duduk perkaranya)?
Pertanyaan APA yang terjadi, akan menyebabkan wartawan mengumpulkan fakta yang berkaitan dengan hal=hal yang dilakukan oleh pelaku maupun korban dalam suatu kejadian. Hal yang dilakukan itu bisa berupa penyebab suatu kejadian atau akibat. Kejadian kecelakaan bus misalnya, merupakan APA dalam suatu berita.
Kejadian ini merupakan akibat kejadian. Keputusan Pemda melakukan penggusuran hunian warga misalnya, akan menjadi penyebab timbulnya kejadian-kejadian lain.
SIAPA, merupakan pertanyaan yang mengandung fakta yang berkaitan dengan setiap orang yang terlibat dalam kejadian. Orang yang diberitakan harus dapat diidentifikasi nama, umur, pekerjaan, dan atribut-atribut lain yang melekat.
MENGAPA, akan mengandung jawaban latar belakang dari suatu tindakan ataupun penyebab suatu kejadian yang telah diketahui APA-nya. Jika APA-nya adalah kejadian kecelakaan bus, maka MENGAPA-nya adalah hal-hal yang menyebabkan terjadinya kecelakaan itu.
DIMANA, menyangkut tempat kejadian.
BILAMANA (kapan), menyangkut waktu kejadian. Waktu yang sudah lama berlalu tidak punya nilai lagi, karenanya harus dicari nilai lain dalam kejadian tersebut. Misalnya aspek human-nya atau kedalaman peristiwa beserta latar belakangnya.
BAGAIMANA, akan memberikan fakta yang berkaitan dengan proses kejadian yang diberitakan. Bagaimana terjadinya suatu kejadian, bagaimana pelaku melakukan perbuatannya.
2. Cara Mendapatkan Fakta
Mengumpulkan fakta adalah kegiatan pokok dalam profesi jurnalistik. Seorang wartawan menemukan atau mendapatkan fakta dengan cara : observasi dan wawancara.
a. Cara observasi
Cara ini hanya dapat dilakukan jika wartawan berada di tempat kejadian, dan dia menggunakan inderanya sendiri dalam merekonstruksi fakta. Pendeskripsian fakta lewat indera ini sangat membantu dalam menulis berita. Sering wartawan bingung karena merasa tak banyak fakta yang dapat dikumpulkan di suatu kejadian dengan menggunakan rumus 5W plus 1H. Padahal, jika ia dapat mendeskripsikan apa yang terlihat, terdengar dan sebagainya, dia akan dapat memperoleh fakta yang sangat luas.
b. Wawancara
Wawancara adalah bertanya kepada orang lain untuk memperoleh fakta atau latar belakang suatu masalah. Secara garis besar, wartawan akan mengajukan pertanyaan untuk memperoleh bahan berita sebagai berikut,
- Kesan inderawi orang lain. Ini terjadi karena fakta tidak dapat dihadapi langsung oleh wartawan. Karena itu wartawan harus menganggap sumber informasi sebagai “wakilnya” yang berhadapan dengan fakta.
- Atribut yang dipunyai seseorang, seperti nama, pekerjaan, kedudukan ekonomi, umur, status perkawinan, dll. Segala latar belakang seseorang yang menjadi SIAPA dalam suatu berita, merupakan atribut yang tidak dapat diobservasi, tetapi melalui wawancara.
- Pendapat, harapan, cita-cita dan aspirasi seseorang.
Wawancara memiliki 3 ciri utama:
1. Masalah yang menjadi pokok wawancara adalah topic yang sedang hangat dibicarakan.
2. Sumber beritanya, nara sumber yang diwawancarai, memenuhi syarat untuk menjelaskan, dan memiliki kompetensi untuk menjelaskan duduk persoalan yang terjadi.
3. Hasil wawancara menambah pengetahuan dan pemahaman public tentang satu masalah.
Hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat wawancara:
1. Sedapat mungkin hindari menuliskan setiap kata yang dikemukakan nara sumber. Tulislah hal-hal yang penting saja. Kalau ada kutipan yang menarik, misalnya sebuah ungkapan, dengan santun mintalah diulangi kembali.
2. Apabila sumber melompat ke masalah atau pokok pembicaraan yang disukainya tetapi menyimpang dari keinginan wartawan, coba kembalikan pembicaraan ke pokok masalah.
3. Hindari seakan-akan Anda lebih tau dari nara sumber, jangan ada kesan menggurui.
4. Jika nara sumber menegaskan bahwa apa yang ia uraikan adalah off the record, maka wartawan tidak boleh mengutip pernyataannya itu. Dan, menjadikan penjelasannya itu hanya sebagai latar belakang permasalahan atau peristiwa.
Sedapat mungkin wawancara menggunakan dua alat, alat tulis dan alat perekam. Alat perekam berfungsi untuk mendokumentasikan bukti ucapan nara sumber secara kongkret. Ini untuk menghindari kemungkinan nara sumber mengelak telah memberikan statement, apabila statement-nya itu menimbulkan polemic di masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar