Custom Search

Selasa, 27 Desember 2011

RAGAM BERITA

Berita jurnalistik digolongkan dalam 3 macam, yaitu
1.      Berita langsung. Berita ini dibuat untuk menyampaikan kejadian-kejadian yang harus secepatnya diketahui pembaca. Prinsip penulisannya adalah dengan piramida terbalik. Yakni, unsur-unsur terpenting dituliskan pada bagian pembukaan berita. Tujuan penulisan seperti ini adalah menceritakan berita secara cepat. Aktualitas merupakan unsur penting untuk berita jenis ini.
2.      Berita ringan. Berita ini tidak mengutamakan pentingnya aktualitas. Prinsip penulisannya tidak terikat pada teknik piramida terbalik. Sebab, yang ditonjolkan bukan unsur penting dalam kejadiannya, tetapi yang menarik perasaan pembaca. Berita ini lebih dapat “bertahan” lebih lama, tidak terikat pada aktualitas.
3.      Berita kisah (feature). Berita ini juga tidak terikat aktualitas. Nilai utamanya adalah unsure manusiawinya. Dilihat dari sisi pembaca, antara berita ringan dengan berita kisah sulit dibedakan. Yang berbeda hanyalah bahan baku yang ditulis. Bahan yang ditulis sebagai berita ringan adalah kejadian pada permukaan saja, tidak perlu melacak latar belakang kejadian tersebut.
Struktur berita
Struktur dalam sebuah berita terdiri dari : pembuka (lead), tubuh (body), dan penutup.’
1.      Lead
Adalah alinea pembuka sebuah berita. Peran lead dapat dianalogikan dengan sebuah etalase took. Etalase pada dasarnya bertujuan memancing calon pembeli untuk masuk ke dalam toko, demikian juga sebuah lead berita. Lead harus memancing pembaca untuk tertarik membaca kelanjutan isi berita berikutnya.

Ragam lead
Kunci untuk penulisan feature (berita kisah) yang baik, terletak pada lead. Lead untuk berita kisah mempunyai dua tujuan utama:
-          Menarik pembaca untuk mengikuti cerita
-          Membuat jalan supaya alur cerita lancer
Berikut ini macam-macam contoh lead yang dapat digunakan untuk penulisan berita feature,
a.      Lead ringkasan
Lead ini sama dengan yang dipakai dalam berita langsung. Yang ditulis inti ceritanya. Lead ini sangat gampang ditulis tapi tidak merangsang pembaca untuk membaca tubuh berita berikutnya.

b.      Lead bercerita
Tekniknya adalah menciptakan suatu suasana dan membiarkan pembaca seolah menjadi tokoh utama.
“Lampu-lampu belakang mobil di depannya makin mengecil, ketika detektif Bondan tancap gas dalam usahanya menangkap Toyota yang melarikan diri”.

c.       Lead deskriptif
Lead deskriptif bisa menciptakan gambaran dalam pikiran pembaca tentang suatu tokoh atau tempat kejadian. Lead ini cocok untuk menulis profile pribadi, misalnya
“Mata yang coklat dan dingin itu makin mengecil, ketika mengamati sebuah wajah. Ia seolah-olah menembus tempat tersembunyinya kebohongan, itulah mata seorang reserse polisi”.

d.      Lead kutipan
Kutipan yang dalam dan ringkas, bisa membuat lead menarik, terutama bila yang dikutip orang yang terkenal. Ingat, lead harus menyiapkan pentas bagi bagian berikutnya dan cerita kita.
“Rakyat banyak, sobat, adalah seekor binatang yang dapat menjadi buas bila dilukai”, kata HL Mecken.

e.       Lead pertanyaan
Lead ini efektif bila berhasil menantang pengetahuan atau rasa ingin tau pembaca. Seorang wartawan yang menulis feature tentang kekesalan masyarakat terhadap olah anggota DPR, bisa menulis begini,
Adakah satu cara untuk merobohkan Gedung Senayan?

2.      Tubuh berita
Tubuh berita harus muncul darilead, dan pokok soal yang dikemukakan dalam lead harus sepenuhnya didukung dan dikembangkan dala kalimat-kalimat berikutnya. Tubuh baerita berfungsi memenuhi tujuan;
a.       Menjelaskan dan menguraikan pokok atau pokok-pokok masalah yang disajikan dalam lead.
b.      Menambahkan atau menguatkan pokok-pokok yang kurang penting yang tidak diberikan dalam lead.

3.      Penutup
Penutup adalah bagian akhir dari berita. Penutup dalam berita langsung adalah fakta-fakta yang tidak penting yang dapat dipotong  tanpa mempengaruhi substansi rangkaian peristiwa penting di atasnya.
Penutup dalam berita feature atau kisah bisa berupa fakta-fakta yang menarik, atau bahkan puncak dari peristiwa yang dianggap paling menarik atau menyentuh.
4.      Prinsip Kode Etik Jurnalistik
a.       Berita harus akurat
Wartawan harus memiliki sikap kehati-hatian dalam merekonstruksi fakta maupu mengutip suatu informasi dari sumber yang jelas. Jangan sampai suatu isu diangkat oleh wartawan dari sumber yang sumir, seperti “katanya”, “menurut bisik-bisik yang berkembang di masyarakat”, “menurut rumor yang beredar”, dan sebagainya.
Kecerobohan wartawan dalam menelusuri sumber berita, akan dapat menuai gugatan. Untuk itu perlu adanya check and recheck untuk memastikan keakuratan fakta yang ditulisnya.
b.      Berita harus adil dan berimbang
Sebuah berita tidak boleh ditulis secara sepihak. Dalam pemberitaan yang bernuansa konflik, apalagi pihak=pihak yang bertentangan harus diberi porsi pemberitaan yang sama. Ini yang disebut dengan cover both side dan aspek balancing. Jika salah satu pihak saja yang dikonfirmasi, maka bisa mengarah pada terjadinya penghakiman oleh pers atau menjurus ke fitnah.
c.       Berita harus obyektif
Pemberitaan sebaiknya mencerminkan tulisan yang obyektif, tidak diwarnai oleh pandangan subyektif wartawan. Artinya, opini wartawan tidak boleh mengubah substansi rangkaian fakta yang seharusnya ditulis. Tidak boleh ada penggelapan fakta maupun penambahan fakta sesuai selera wartawan.

TAHAPAN MENULIS
Sebelum menulis
1.      Memilih kata
2.      Menggunakan kata
3.      Menyusun kalimat
4.      Merangkai berbagai kalimat menjadi alinea
5.      Merangkai alinea menjadi kalimat utuh
Mulai menulis
1.      Menentukan angle
2.      Memilih ragam berita
3.      Memilih lead
4.      Memilih struktur tubuh berita
5.      Memilih penutup berita

MENULIS BERITA

Menulis berita tidak sama dengan menulis tulisan biasa. Ada kriteria tertentu yang penting untuk diperhatikan ketika seseorang menulis berita jurnalistik. Kriteria itu bisa menyangkut ragam berita, cara menulis pembukaan berita, struktur berita, dan sebagainya.
Seorang jurnalis juga harus mengetahui berita yang bagaimana yang disebut factual, actual, yang mengandung unsur konflik, atau yang mengandung kontroversi. Juga perlu memahami perbedaan antara follow up news, in dept reporting, investigative reporting, dll.
1.      Enam pertanyaan pokok
Setiap berita berisikan fakta-fakta yang menyangkut manusia ataupun benda-benda dan hewan yang ada dalam masyarakat. Baik orang, benda, dan hewan yang diberitakan dapat diungkap melalui enam pertanyaan pokok: yaitu: apa, siapa, mengapa, dimana, bilamana, dan bagaimana.
a.       Apa yang terjadi?
b.      Siapa yang terlibat dalam kejadian?
c.       Mengapa (apa yang menyebabkan) kejadian timbul?
d.      Di mana kejadian itu ?
e.       Bilamana kejadian itu?
f.       Bagaimana kejadiannya (duduk perkaranya)?
Pertanyaan APA yang terjadi, akan menyebabkan wartawan mengumpulkan fakta yang berkaitan dengan hal=hal yang dilakukan oleh pelaku maupun korban dalam suatu kejadian. Hal yang dilakukan itu bisa berupa penyebab suatu kejadian atau akibat. Kejadian kecelakaan bus misalnya, merupakan APA dalam suatu berita.
Kejadian ini merupakan akibat kejadian. Keputusan Pemda melakukan penggusuran hunian warga misalnya, akan menjadi penyebab timbulnya kejadian-kejadian lain.
SIAPA, merupakan pertanyaan yang mengandung fakta yang berkaitan dengan setiap orang yang terlibat dalam kejadian. Orang yang diberitakan harus dapat diidentifikasi nama, umur, pekerjaan, dan atribut-atribut lain yang melekat.
MENGAPA, akan mengandung jawaban latar belakang dari suatu tindakan ataupun penyebab suatu kejadian yang telah diketahui APA-nya. Jika APA-nya adalah kejadian kecelakaan bus, maka MENGAPA-nya adalah hal-hal yang menyebabkan terjadinya kecelakaan itu.
DIMANA, menyangkut tempat kejadian.
BILAMANA (kapan), menyangkut waktu kejadian. Waktu yang sudah lama berlalu tidak punya nilai lagi, karenanya harus dicari nilai lain dalam kejadian tersebut. Misalnya aspek human-nya atau kedalaman peristiwa beserta latar belakangnya.
BAGAIMANA, akan memberikan fakta yang berkaitan dengan proses kejadian yang diberitakan. Bagaimana terjadinya suatu kejadian, bagaimana pelaku melakukan perbuatannya.
2.      Cara Mendapatkan Fakta
Mengumpulkan fakta adalah kegiatan pokok dalam profesi jurnalistik. Seorang wartawan menemukan atau mendapatkan fakta dengan cara : observasi dan wawancara.

a.       Cara observasi
Cara ini hanya dapat dilakukan jika wartawan berada di tempat kejadian, dan dia menggunakan inderanya sendiri dalam merekonstruksi fakta. Pendeskripsian fakta lewat indera ini sangat membantu dalam menulis berita. Sering wartawan bingung karena merasa tak banyak fakta yang dapat dikumpulkan di suatu kejadian dengan menggunakan rumus 5W plus 1H. Padahal, jika ia dapat mendeskripsikan apa yang terlihat, terdengar dan sebagainya, dia akan dapat memperoleh fakta yang sangat luas.
b.      Wawancara
Wawancara adalah bertanya kepada orang lain untuk memperoleh fakta atau latar belakang suatu masalah. Secara garis besar, wartawan akan mengajukan pertanyaan untuk memperoleh bahan berita sebagai berikut,
-          Kesan inderawi orang lain. Ini terjadi karena fakta tidak dapat dihadapi langsung oleh wartawan. Karena itu wartawan harus menganggap sumber informasi sebagai “wakilnya” yang berhadapan dengan fakta.
-          Atribut yang dipunyai seseorang, seperti nama, pekerjaan, kedudukan ekonomi, umur, status perkawinan, dll. Segala latar belakang seseorang yang menjadi SIAPA dalam suatu berita, merupakan atribut yang tidak dapat diobservasi, tetapi melalui wawancara.
-          Pendapat, harapan, cita-cita dan aspirasi seseorang.
Wawancara memiliki 3 ciri utama:
1.      Masalah yang menjadi pokok wawancara adalah topic yang sedang hangat dibicarakan.
2.      Sumber beritanya, nara sumber yang diwawancarai, memenuhi syarat untuk menjelaskan, dan memiliki kompetensi untuk menjelaskan duduk persoalan yang terjadi.
3.      Hasil wawancara menambah pengetahuan dan pemahaman public tentang satu masalah.


Hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat wawancara:
1.      Sedapat mungkin hindari menuliskan setiap kata yang dikemukakan nara sumber. Tulislah hal-hal yang penting saja. Kalau ada kutipan yang menarik, misalnya sebuah ungkapan, dengan santun mintalah diulangi kembali.
2.      Apabila sumber melompat ke masalah atau pokok pembicaraan yang disukainya tetapi menyimpang dari keinginan wartawan, coba kembalikan pembicaraan ke pokok masalah.
3.      Hindari seakan-akan Anda lebih tau dari nara sumber, jangan ada kesan menggurui.
4.      Jika nara sumber menegaskan bahwa apa yang ia uraikan adalah off the record, maka wartawan tidak boleh mengutip pernyataannya itu. Dan, menjadikan penjelasannya itu hanya sebagai latar belakang permasalahan atau peristiwa.
Sedapat mungkin wawancara menggunakan dua alat, alat tulis dan alat perekam. Alat perekam berfungsi untuk mendokumentasikan bukti ucapan nara sumber secara kongkret. Ini untuk menghindari kemungkinan nara sumber mengelak telah memberikan statement, apabila statement-nya itu menimbulkan polemic di masyarakat.

Entri Populer